lkti Ini Alasan IHSG & Rp Jadi Yang Terkuat di Asia ~ GIBEI FE UNP
Quotes by TradingView

Rabu, 09 Maret 2016

Ini Alasan IHSG & Rp Jadi Yang Terkuat di Asia

 
Catatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dua bulan terakhir diproyeksi oleh ekonom senior Faisal Basri dapat mencetak rekor baru tahun ini.

Secara year-to-date, kenaikan IHSG 2,46 persen merupakan angka terbesar kedua di kawasan Asia setelah Thailand. Ekonom PT Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta mengatakan prestasi yang dicetak IHSG tak lepas dari menguatnya nilai tukar rupiah yang melebihi ekspektasi.
"Pergerakan nilai tukar di suatu negara berbanding lurus dengan pertumbuhan. Jadi sebetulnya penguatan rupiah bukan karena ekonomi kita yang lebih baik di kawasan Asia melainkan pertumbuhan kita yang telat dibandingkan dengan negara lain sehingga efeknya baru terasa belakangan," kata Rangga.

Grafik: Pergerakan IHSG Terhadap Dolar AS Sejak Awal Tahun Hingga 25 Februari 2016 Sumber: Bloomberg.com

Investor sebelumnya memproyeksi pemulihan pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah dirasakan pada kuartal pertama 2015 setelah Joko Widodo terpilih menjadi Presiden RI. Tetapi ternyata belanja pemerintah baru bisa dilaksanakan akhir tahun 2015.
Selain itu faktor penguatan rupiah juga akibat peluang Bank Sentral Amerika menaikan Fed Rate mengecil, meskipun The Fed memproyeksi akan ada kenaikan menjadi 1,5 persen. Tetapi dengan turunnya harga minyak serta indikator ekonomi Amerika yang masih lemah menekan ekspektasi tersebut.

Optimisme pergerakan nilai tukar rupiah juga diperlihatkan Bank Indonesia yang telah menurunkan BI Rate 50 basis poin (bps) dalam dua bulan terakhir ini.
Hal yang diluar ekspektasi ini membuat penguatan rupiah menjadi terbesar kedua di kawasan Asia. Year-to-date, rupiah menguat menjadi Rp13.381 per dolar Amerika dari sebelumnya Rp13.632.

Garfik: Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Sejak Awal Tahun Hingga 25 Februari 2016


Sumber: Bloomberg.com

Namun penguatan rupiah dan IHSG ini dilihat Rangga belum menunjukan adanya pemulihan ekonomi. Rangga mengatakan pertumbuhan PDB di kuartal akhir 2015 lebih ditopang oleh belanja negara, bukan dari pulihnya daya beli masyarakat.

Defisit transaksi berjalan (current account deficit)  kuartal IV-2015 melebar menjadi $5,11 miliar atau 2,39 persen dari PDB dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya $4,2 miliar atau 1,94 persen dari PDB.
Melebarnya defisit transaksi berjalan pada kuartal IV-2015 dipicu oleh turunnya surplus nonmigas dan tingginya peningkatan impor kelompok barang modal diikuti oleh kelompok barang konsumsi dan bahan baku akibat dari belanja modal pemerintah untuk infrastruktur.

Selain itu dari sisi transaksi finansial di tahun 2015 juga mengecil dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Melihat dua transaksi tersebut menandakan penguatan rupiah belum ditopang oleh arus dana. Artinya penguatan lebih disebabkan oleh faktor ekspektasi akan infrastruktur.
Untuk itu pemerintah harus menjaga ekspektasi dari investor dengan merealisasikan proyek-proyek infrastruktur yang direncakan. Januari 2016 kemarin, pemerintah menetapkan 30 proyek prioritas untuk pembangunan infrastruktur, mulai dari jalan tol, pembangkit listrik hingga jalur kereta

  • Sumber: Bareksa

1 komentar:

Berkomentarlah dengan baik.Tidak mengandung SARA, promosi, atau melakukan tindakan tercela lainnya. Jagalah etika dalam berkomentar. Terima kasih.